Strategi Pemerintah Indonesia Menuju Net Zero Emission melalui Penghijauan

Strategi Pemerintah Indonesia Menuju Net Zero Emission melalui Penghijauan – Komitmen menuju Net Zero Emission (NZE) menjadi bagian penting dari agenda pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Sebagai negara dengan kawasan hutan tropis luas dan garis pantai terpanjang kedua di dunia, Indonesia memiliki peran strategis dalam upaya global menekan emisi gas rumah kaca. Pemerintah menargetkan pencapaian NZE pada 2060 atau lebih cepat, dengan berbagai kebijakan yang terintegrasi, salah satunya melalui strategi penghijauan nasional.

Penghijauan menjadi pendekatan berbasis alam (nature-based solutions) yang dinilai efektif dalam menyerap karbon sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan. Strategi ini tidak hanya berfokus pada penanaman pohon, tetapi juga mencakup rehabilitasi hutan, restorasi mangrove, perlindungan lahan gambut, serta pengembangan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan. Dengan langkah terencana dan kolaboratif, penghijauan menjadi salah satu pilar penting dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon.

Rehabilitasi Hutan, Mangrove, dan Lahan Gambut

Hutan berfungsi sebagai penyerap karbon alami melalui proses fotosintesis. Ketika hutan terjaga dengan baik, karbon tersimpan dalam biomassa pohon dan tanah dalam jangka panjang. Namun, deforestasi dan degradasi lahan selama beberapa dekade telah meningkatkan emisi karbon secara signifikan. Oleh karena itu, pemerintah memperkuat program rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) untuk memulihkan kawasan kritis.

Rehabilitasi dilakukan melalui penanaman kembali spesies pohon lokal yang sesuai dengan karakteristik ekosistem. Pendekatan ini penting agar tingkat keberhasilan tanam tinggi dan ekosistem dapat pulih secara alami. Tidak hanya fokus pada jumlah pohon yang ditanam, strategi ini juga memperhatikan pemeliharaan jangka panjang agar tanaman benar-benar tumbuh dan berfungsi optimal sebagai penyerap karbon.

Selain hutan daratan, restorasi mangrove menjadi prioritas. Indonesia memiliki sekitar seperlima kawasan mangrove dunia, yang berperan sebagai penyimpan karbon biru (blue carbon). Mangrove mampu menyerap karbon hingga beberapa kali lipat dibandingkan hutan daratan tropis. Restorasi mangrove tidak hanya mendukung target NZE, tetapi juga melindungi pesisir dari abrasi, badai, dan kenaikan permukaan laut.

Lahan gambut juga menjadi perhatian khusus. Gambut yang terdegradasi dapat melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar, terutama jika terbakar. Oleh karena itu, pemerintah menjalankan program pembasahan kembali (rewetting) dan revegetasi lahan gambut untuk mencegah kebakaran serta memulihkan fungsi ekologisnya. Upaya ini penting untuk menjaga cadangan karbon tetap tersimpan di dalam tanah.

Penguatan kebijakan moratorium pembukaan hutan primer dan lahan gambut menjadi langkah preventif agar tidak terjadi peningkatan emisi baru. Pengawasan dilakukan melalui sistem pemantauan berbasis satelit dan teknologi geospasial, sehingga perubahan tutupan lahan dapat terdeteksi secara cepat dan akurat.

Program perhutanan sosial juga mendukung strategi penghijauan. Melalui skema ini, masyarakat diberikan akses legal untuk mengelola kawasan hutan secara berkelanjutan. Dengan keterlibatan langsung masyarakat, upaya rehabilitasi menjadi lebih inklusif dan berkelanjutan. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga penjaga ekosistem.

Penghijauan Perkotaan dan Kolaborasi Multipihak

Strategi menuju NZE tidak hanya berlangsung di kawasan hutan dan pesisir, tetapi juga di wilayah perkotaan. Kota-kota besar menghadapi tantangan polusi udara, suhu tinggi akibat efek pulau panas (urban heat island), dan keterbatasan ruang terbuka hijau. Pemerintah mendorong pembangunan taman kota, hutan kota, serta jalur hijau untuk meningkatkan kualitas udara dan menyerap emisi karbon.

Penghijauan perkotaan berkontribusi dalam menurunkan suhu lingkungan, mengurangi risiko banjir melalui peningkatan daya resap tanah, serta meningkatkan kesehatan masyarakat. Ruang terbuka hijau juga memberikan manfaat sosial sebagai ruang interaksi dan rekreasi warga.

Selain upaya fisik di lapangan, strategi ini diperkuat dengan kebijakan ekonomi rendah karbon. Penghijauan menjadi bagian dari komitmen pengurangan emisi nasional yang terintegrasi dengan pengembangan energi terbarukan, efisiensi energi, dan transportasi ramah lingkungan. Dengan kombinasi ini, Indonesia tidak hanya mengurangi emisi dari sumbernya, tetapi juga meningkatkan kapasitas penyerapan karbon.

Peran sektor swasta menjadi semakin penting dalam percepatan penghijauan. Melalui mekanisme perdagangan karbon dan investasi hijau, perusahaan didorong berpartisipasi dalam proyek restorasi ekosistem. Skema ini membuka peluang pendanaan tambahan sekaligus mendorong tanggung jawab lingkungan korporasi.

Di sektor pertanian, penerapan agroforestri menjadi bagian dari solusi. Sistem ini mengombinasikan tanaman kehutanan dan tanaman pangan dalam satu lahan, sehingga meningkatkan pendapatan petani sekaligus menyerap karbon. Pendekatan ini menunjukkan bahwa strategi NZE tidak harus mengorbankan produktivitas ekonomi.

Edukasi publik juga memegang peranan penting. Kampanye penanaman pohon, gerakan satu orang satu pohon, hingga program sekolah hijau bertujuan menumbuhkan kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga lingkungan. Kesadaran ini menjadi fondasi jangka panjang agar upaya penghijauan tidak berhenti pada program pemerintah semata.

Meski demikian, tantangan implementasi tetap ada. Koordinasi antarinstansi, konsistensi kebijakan, serta keberlanjutan pendanaan menjadi faktor kunci keberhasilan. Penghijauan memerlukan waktu untuk memberikan dampak signifikan terhadap penyerapan karbon, sehingga dibutuhkan komitmen jangka panjang.

Kualitas penanaman juga harus diperhatikan. Penanaman pohon secara masif tanpa perencanaan ekologis dapat mengurangi efektivitas bahkan merusak keseimbangan alam. Oleh karena itu, pemilihan spesies lokal dan pendekatan berbasis lanskap menjadi prioritas agar manfaat ekologis dapat maksimal.

Kesimpulan

Strategi pemerintah Indonesia menuju Net Zero Emission melalui penghijauan merupakan langkah strategis yang menggabungkan rehabilitasi hutan, restorasi mangrove, perlindungan gambut, serta penghijauan perkotaan. Pendekatan ini tidak hanya menekan emisi, tetapi juga memperkuat ketahanan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Keberhasilan strategi ini bergantung pada kolaborasi multipihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga sektor swasta. Dengan komitmen yang konsisten dan implementasi yang terencana, penghijauan dapat menjadi fondasi penting dalam mewujudkan Indonesia yang rendah emisi, tangguh terhadap perubahan iklim, dan berkelanjutan di masa depan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top